« March 2007 | Main | September 2007 »

Islam Hasan dan Husai (AS)

Hasan dan Husain adalah putra Fatimah Azzahra (putri nabi Muhammad SAW), tidak banyak yang mengetahui kejayaan islam sesudah Rasullulah SAW meninggal dunia, yang dilanjutkan dengan pengalihan kekuasaan sampai pada cucu nabi (hasan dan husain).
Mereka memiliki  perbedaan  dalam masa kekalifahannya.

Antara Imam Hasan dan Imam Husain 

Kedua tokoh yang cemerlang ini adalah dua bersaudara putra Ali AS dan Fathimah AS. Rasulallah SAW sangat mencintai keduanya dan menyebut mereka anak-anaknya. Beliau tidak tahan melihat mereka sakit dan sedih. Beliau berkata: "Kedua anakku ini adalah Imam, baik dalam keadaan berdiri ataupun duduk". Ungkapan "dalam keadaan berdiri ataupun duduk" adalah isyarat kepada klaim Imam Husain yang terang-terangan terhadap kekhalifahan, pemberontakan, dan peperangannya melawan musuh-musuh agama, dan diamnya Imam Hasan dari tindakan-tindakan tersebut. Nabi juga berkata: "Hasan dan Husain adalah pemimpin-pemimpin kaum muda di surga".

Sesuai dengan wasiat kakeknya, Imam Hasan diangkat sebagai khalifah. Masyarakat berbaiat kepadanya, dan selama enam bulan dia memikul tugas mengurus masalah-masalah di negeri-negeri Muslim, kecuali Syam (Suriah) dan Mesir, di mana Muawiyah berkuasa. Dia berperilaku menurut teladan ayahnya.

Selama masa itu, Imam Hasan mengerahkan pasukan tentara untuk memadamkan pemberontakan Muawiyah, tetapi akhirnya menjadi jelas bagi dia bahwa masyarakat telah dikuasai oleh Muawiyah dan bahwa panglima-panglima tentaranya telah berhubungan dengan Muawiyah dan menunggu perintahnya untuk membunuh atau menangkap dirinya. Jadi terpaksa dia mengusulkan perdamaian.

Imam Hasan mengadakan perdamaian dengan Muawiyah, yang ternyata tidak memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati bersama. Setelah perdamaian ditandatangani, Muawiyah datang ke Irak. Dia naik ke atas mimbar di depan jamaah kaum Muslimin dan mengumumkan: "Aku tidak memerangi kalian demi agama supaya kalian menegakkan shalat atau berpuasa. Aku hanya ingin memerintah kalian dan sekarang aku telah mencapai tujuanku." Kemudian dia berkata lagi: "Perjanjian yang kusepakati bersama Al-Hasan sekarang berada di bawah telapak kakiku."

Setelah penandatanganan perjanjian dengan Muawiyah tersebut, Imam Hasan hidup selama 9,5 tahun di bawah dominasi Muawiyah, dalam kondisi kelam dan sangat menindas. Beliau tidak bisa menikmati keamanan pribadi, bahkan di rumahnya sendiri pun. Akhirnya, istri beliau, Ju'dah, meracuni beliau atas suruhan Muawiyah.

Setelah syahidnya Imam Hasan, saudara beliau Imam Husain menggantikannya sebagai pembimbing umat atas perintah Alloh dan sesuai dengan wasiat terakhir Imam Hasan. Tetapi situasi dan kondisi tidak berubah. Muawiyah terus melakukan penindasan dan berhasil menutup kesempatan-kesempatan Imam Husain.

Setelah kira-kira 3,5 tahun, Muawiyah meninggal dunia, dan kekhalifahan, yang telah merosot menjadi kerajaan, jatuh ke tangan anaknya, Yazid. Bertentangan dengan ayahnya yang licik, Yazid bersikap sombong dan terang-terangan bergaya hidup dengan pesta pora, tidak senonoh dan kasar. Segera setelah anak muda yang sombong ini memegang kekuasaan atas masalah-masalah kaum Muslimin, dia memerintahkan gubernurnya di Makkah untuk meminta sumpah setia Imam Husain, atau kalau tidak, mengirimkan kepala beliau. Ketika gubernur tersebut menuntut sumpah setia, Imam Husain mengulur-ulur waktu. Beliau berangkat ke Makkah dengan rombongannya pada malam hari dan berlindung di tanah Haram, yang merupakan tempat perlindungan yang diakui semua orang.

Setelah tinggal di sana beberapa bulan, beliau menyadari bahwa Yazid tidak mau mengendorkan sikapnya, dan jika tidak memberikan sumpah setia, beliau pasti akan dibunuh. Juga selanjutnya ribuan surat datang dari Irak dalam bulan-bulan tersebut, yang menyatakan dukungan kepada beliau dan mendesak agar beliau bangkit berontak melawan penindas-penindas Bani Umayyah.

Imam Husain memahami dari pengalamannya dan dari indikasi-indikasi serta iklim kemasyarakatan yang ada, bahwa jika beliau melakukan pemberontakan, beliau tidak akan berhasil. Sekalipun demikian, beliau memutuskan untuk menolak memberika sumpah setia dan bertempur sampai mati. Beliau berangkat dengan rombongannya ke Kufah dengan maksud memberontak. Di tengah perjalanan, di dataran Karbala (kira-kira 70 km dari Kufah) beliau berhadapan dengan satu kekuatan musuh yang sangat besar.

Imam Husain tidak meminta seorang pun untuk bergabung dengan beliau dalam rencana beliau yang penuh resiko maut itu, dan ia telah mengatakan tekadnya untuk syahid kepada anggota-anggota rombongannya. Beliau memberi mereka kesempatan untuk memisahkan diri dari beliau. Akibatnya, pada hari ketika beliau menghadapi pasukan musuh, beliau hanya disertai oleh sejumlah kecil orang yang setia dan menyerahkan nasibnya kepada Allah. Demikianlah, tentara musuh lalu mengepung rapat mereka tanpa kesulitan, bahkan menutup jalan mereka untuk mengambil air. Mereka terjepit antara keharusan untuk memberikan sumpah setia dan kematian.

Imam Husain tidak menyerah dan tidak memberikan sumpah setia, melainkan bersiap-siap untuk mati (syahid). Suatu hari, beliau dan rombongannya memerangi musuh dari pagi hingga sore. Dalam pertempuran itu, Imam Husain, beserta putra-putra, keponakan-keponakan, dan saudara sepupu beliau, serta orang-orang lain yang menyertai beliau, yang semuanya berjumlah tujuh puluh orang, mati terbunuh sebagai syuhada. Hanya putra beliau, Imam Zaynal-Abidin As-Sajjad saja, yang tak mampu bertempur karena terlalu sakit, yang lolos dari maut.

Setelah membunuh Imam Husain AS, pasukan musuh menjarah barang-barang beliau dan menawan sanak keluarga beliau, mengirim mereka dari Karbala ke Kufah dan dari Kufah ke Damaskus bersama dengan kepala-kepala para syuhada yang telah dipotong dari jasad-jasad mereka!

Selama berada dalam tawanan tersebut, Imam Sajjad AS dan Zaynab, saudara perempuan Imam Husain AS, mengemukakan serangan pidato yang mengungkapkan kebenaran menyangkut tirani Bani Umayyah di depan mata seluruh rakyat. Imam Sajjad AS mengucapkan khotbah penting di Damaskus, dan Zaynab mengemukakan serangkaian pidato di Kufah, termasuk pidato-pidato di depan persidangan gubernur Kufah Ibn Ziyad, dan satu pidato di depan Yazid di Damaskus.

Bagaimana pun pemberontakan Imam Husain terhadap tirani dan kezhaliman Bani Umayyah, yang seperti kita lihat, berakibat syahidnya beliau beserta sanak keluarga dan sahabat-sahabatnya, penjarahan harta bendanya serta ditawannya istri dan anaknya, merupakan peristiwa yang bersejarah yang tidak ada bandingannya dalam sejarah. Orang bisa mengatakan bahwa Islam tetap hidup berkat kejadian ini. Seandainya hal itu tidak terjadi, Bani Umayyah mungkin telah berhasil mencabut Islam hingga ke akar-akarnya.

Metode Imam Hasan Berbeda dengan Imam Husain

Walaupun Rasulallah SAW telah menyebut kedua tokoh istimewa ini sebagai Imam yang sesungguhnya, namun metode yang ditempuh keduanya nampak berbeda. Sebagian orang bahkan mengatakan bahwa kedua bersaudara itu memiliki pandangan yang sangat kontras hingga yang satu bersedia berdamai ketika dia mempunyai empat puluh ribu orang tentara, sedang yang lain bertempur sampai mati dan kehilangan anaknya yang masih bayi dan sahabat-sahabatnya ketika dia hanya mempunyai kawan sebanyak empat puluh orang (selain anggota keluarganya).

Akan tetapi, suatu penelitian yang cermat akan membuktikan hal yang sebaliknya dari pandangan di atas. Kita lihat bahwa sementara Imam Hasan AS hidup selama kira-kira 9,5 tahun di masa pemerintahan Muawiyah tanpa secara terbuka menentangnya, Imam Husain AS juga hidup selama jangka waktu yang kira-kira sama dalam masa pemerintahan Muawiyah setelah saudaranya dibunuh, tanpa melakukan pemberontakan atau penentangan secara terbuka.

Oleh karena itu, kita harus mencari sebab yang sebenarnya dari perbedaan lahiriah ini dalam kebijaksanaan Muawiyah yang berbeda dengan kebijaksanaan Yazid, bukan pada perbedaan pandangan antara kedua Imam tersebut.

Kebijaksanaan Muawiyah tidaklah didasarkan sikap yang berlebih-lebihan. Dia tidak secara terang-terangan mencemoohkan hukum-hukum agama. Dia menampilkan dirinya sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW dan penulis wahyu. Karena saudara perempuannya adalah salah seorang dari istri-istri Nabi SAW yang terkenal dengan sebutan Ummahatul-Mu'min (Ibu Kaum Mukminin), maka dia lalu menyebut dirinya "Paman Kaum Mukminin". Dia telah dipersiapkan dengan cermat untuk menjadi orang besar oleh khalifah kedua, yang memperoleh kepercayaan penuh dan penghargaan tinggi dari masyarakat.

Di samping itu, Muawiyah umumnya mengangkat sahabat-sahabat Nabi SAW yang dihormati dan dihargai masyarakat, seperti Abu Hurairah, Amr ibn Ash, Yusr, dan Mughirah ibn Syu'bah, untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan dan jabatan-jabatan penting lainnya di masyarakat, dan dengan demikian memperoleh kepercayaan masyarakat. Banyak ceritera yang beredar di masyarakat mengenai keutamaan sahabat-sahabat Nabi ini, kedudukan mereka yang istimewa di bidang agama, jaminan pengampunan bagi mereka, dan sebagainya. Demikianlah, apapun yang dilakukan Muawiyah, jika itu bisa dirasionalisasikan atau diberi pembenaran, para pengikutnya ini akan merasionalisasikannya atau memberinya pembenaran. Dan jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka mereka akan membungkam protes yang muncul dengan cara, pertama, memberikan uang suap yang besar, dan kedua, jika itu gagal, dengan pembunuhan. Puluhan ribu pengikut Ali yang tak berdosa (tak bersalah--), orang-orang Muslim lainnya, dan bahkan sahabat-sahabat Nabi SAW menemui ajalnya dengan cara demikian.

Dalam setiap apa yang diperbuatnya, Muawiyah memakai topeng keshalehan. Dia juga memperlihatkan sikap penyabar, dan dengan kelemahlembutannya dia memperoleh kecintaan masyarakat. Dia bahkan menjawab hinaan dan cercaan yang dilontarkan kepadanya dengan humor dan kemurah hati. Inilah pendukung kebijaksanaan-kebijaksanaannya.

Dia memperlihatkan penghormatan lahiriah terhadap Imam Hasan dan Imam Husain AS dan mengirimkan kepada keduanya hadiah-hadiahn yang mahal. Akan tetapi, dia juga mengumumkan dengan terbuka bahwa barangsiapa yang meriwayatkan sebuah hadis yang memuji keutamaan Ahlul Bayt, maka dia akan menanggung resiko kehilangan harta atau nyawanya. Sebaliknya, barangsiapa yang meriwayatkan hadis dengan memuji para sahabat Nabi SAW, dia akan mendapat hadiah.

Muawiyah memerintahkan khatib-khatib untuk mengutuk Ali AS dan memerintahkan pembunuhan terhadap pengikut-pengikutnya di mana pun mereka ditemukan. Perintah ini dilaksanakan dengan semangat sedemikian rupa sampai-sampai banyak musuh Ali AS sendiri yang dibunuh karena dituduh bersimpati kepada Ali.

Apa yang diuraikan di muka membuat jelas bahwa bagi Imam Hasan, memimpin pemberontakan terhadap Muawiyah hanya akan merugikan Islam saja. Pemberontakan seperti itu hanya akan berakibat tumpahnya darah beliau dan pengikut beliau secara sia-sia. Bahkan bisa dibayangkan bahwa Muawiyah akan menyewa orang-orang yang berhubungan dengan beliau untuk membunuh beliau dan kemudian memperlihatkan sikap berkabung untuk mendinginkan emosi masyarakat. Kemudian dia akan memerintahkan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Syiah dengan alasan balas dendam atas kematian beliau, seperti yang dilakukannya dalam kasus Utsman ibn Affan.

Sebaliknya, gaya politik Yazid sama sekali tidak mirip dengan ayahnya. Dia adalah seorang pemuda yang sombong, yang tidak mengenal logika lain kecuali kekuatan, dan tidak pernah mempertimbangkan pandangan masyarakat.

Pada tahun pertama pemerintahannya, dia membunuh keturunan-keturunan Nabi SAW! Tahun kedua, dia menjarah Madinah dan mebiarkan serdadu-serdadunya melakukan pembunuhan dan perampokan di kota tersebut selama tiga hari. Tahun ketiga, dia merusak Ka'bah!

Dengan demikian, pemberontakan Imam Husain memperoleh simpati masyarakat yang mendalam dan terang-terangan, yang mula-mula mengambil bentuk pergolakan berdarah dan selanjutnya membawa sejumlah besar kaum Muslimin berbuat sesuai dengan kecintaan fitri mereka terhadap kebenaran, dan muncul sebagai pengikut-pengikut setia Para Pewaris Nabi SAW.

Itulah sebabnya Muawiyah telah melarang Yazid bertindak menekan Imam Husain AS. Tetapi mana bisa kesombongan dan kemabukan Yazid menyadarkannya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan dan kebaikannya sendiri?

Sumber:

INILAH ISLAM

Terjemahan dari: "Islamic Teachings: An Overview"

Al-Allamah Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i